BijakFun

Melihat Sejarah Bahasa Isyarat Sebagai Alat Komunikasi Teman Tuli

Bahasa isyarat merupakan bahasa non verbal yang digunakan penyandang Disabilitas Tuli untuk berkomunikasi. Bagaimana sejarahnya?

679   views

Kamibijak.com, Hiburan – Bahasa isyarat merupakan bahasa non verbal yang digunakan penyandang Disabilitas Tuli untuk berkomunikasi. Bahasa isyarat juga menjadi alat bagi penggunanya untuk mendapatkan informasi dan mengidentifikasi diri.

Melansir penelitian Silva Tenrisara Isma yang dimuat Kongres Bahasa Indonesia (KBI), perbedaan mendasar antara bahasa isyarat dan bahasa lisan terletak pada modalitas atau sarana produksi dan persepsinya. Bahasa lisan diproduksi melalui alat ucap (oral) dan dipersepsi melalui alat pendengaran (auditoris).

Sementara bahasa isyarat diproduksi melalui gerakan tangan (gestur) dan dipersepsi melalui alat penglihatan (visual).

“Dengan demikian, bahasa lisan bahasa yang bersifat oral-auditoris, sementara bahasa isyarat bersifat visual-gestural,” tulis Silva dalam penelitiannya, dikutip pada Kamis (3/9/2020).

Masa awal penggunaan bahasa isyarat dapat ditelusuri sejak era Plato 360 SM. Dalam karyanya, Cratylus menyatakan bahwa jika seseorang tidak mempunyai suara atau lidah seperti orang Tuli, maka dibuatlah isyarat dengan menggunakan tangan, kepala, dan tubuh. Keyakinan terhadap bahasa isyarat sebagai bahasa manusia yang alami dinyatakan oleh René Descartes pada abad ke-18.

Kajian linguistik bahasa isyarat modern dianggap dipelopori oleh William Stokoe pada tahun 1960 melalui publikasi buku Sign Language Structure tentang struktur bahasa isyarat Amerika (ASL). Di Indonesia, penelitian linguistik bahasa isyarat baru dimulai pada tahun 2000-an. Hingga kini, ada dua jenis bahasa isyarat yang dikenal yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). Saat ini yang banyak digunakan adalah bahasa isyarat SIBI untuk acara formal dan kenegaraan.

“Nah ini teman-teman Disabilitas sensorik rungu menyampaikan aspirasi beberapa waktu lalu kepada saya bahwa sebaiknya sekarang yang digunakan Bisindo karena mereka sudah meminta aspirasi itu sejak tahun 1975 tapi masih saja SIBI yang digunakan,” kata Cheta dalam webinar Dewan Pers (31/8/2020).

Alasan Bisindo lebih dipilih oleh teman Tuli ketimbang SIBI adalah karena Bisindo berasal dari bahasa ibu. Akar bahasanya berasal dari bahasa Indonesia yang cenderung lebih umum dan universal untuk diekspresikan bahkan lebih mudah dimengerti. SIBI sendiri berasal dari ASL sehingga kurang sesuai dengan bahasa isyarat Indonesia atau Bisindo. (LEAS/MG)

Sumber: https://www.liputan6.com/disabilitas/read/4346531/mengenal-sejarah-bahasa-isyarat-sebagai-alat-komunikasi-teman-tuli?medium=Headline&campaign=Headline_click_1

#BijakFun

#KamiBijakChannel

#GenggamDuniaTanpaSuara


Jangan lupa subscribe, tinggal komentar, dan share.

KamiBijakID Channel: http://bit.ly/KamiBijakIDChannel


Follow kami juga di sini:

Website: http://bit.ly/KamiBijakcom

Instagram: http://bit.ly/KamiBijakIDInstagram

Facebook: http://bit.ly/KamiBijakIDFacebook


Terima kasih sudah menonton, Like, Follow, dan subscribe Anda sangat berarti bagi kami untuk menambah semangat membuat konten yang lebih bermanfaat.


==============

TAG(S): bahasa isyarat,sejarah bahasa isyarat,bahasa isyarat indonesia,kajian bahasa isyarat,bisindo,sibi,disabilitas tuli,tuna rungu,teman tuli,sign language,kamibijak,kami bijak