Kisah Inspiratif Mimi Mariani Lusli: Semangat Tunanetra Berdayakan Penyandang Disabilitas

Kisah ispiratif Mimi Mariani Lusli. Seorang penyandang tunanetra yang terus mengedepankan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dan mengurangi

970   views

Kamibijak.com, Bincang Isyarat. Menjadi disabilitas bukan menjadi alasan seseorang untuk menyerah dalam keadaan dan tidak mau berjuang untuk berubah menjadi lebih baik. Ini dibuktikan oleh Mimi Mariani Lusli. Wanita penyandang tunanetra yang akrab disapa Mimi ini mengalahkan kelemahan dirinya untuk berkarya di kalangan orang-orang normal. Wanita inspiratif kelahiran Jakarta, 17 Desember 1962 tersebut jadi penyandang tunanetra sejak umur 17 tahun dan saat ini memiliki lembaga pendidikan dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitas bernama Mimi Institute Jakarta.

Mimi membangun lembaga pendidikan dan pemberdayaan untuk menghilangkan kesalahpahaman yang terjadi di antara masyarakat Indonesia teryadap penyandang disabilitas. Ia sempat merasakan stigma yang kuat terhadap orang-orang yang memiliki kekurangan seperti dirinya. Stigma yang dirasakan penyandang disabilitas lainnya hendak ia luruskan untuk merubah pemahaman sebagian orang Indonesia bahwa penyandang disabilitas perlu diberikan belas kasihan.

Oleh karena itu, Mimi berupaya memberdayakan penyandang disabilitas melalui berbagai pendidikan dan pelatihan supaya menjadi pribadi yang mandiri. Tidak hanya diajarkan keterampilan membaca, menghitung, dan menulis, Mimi juga membuat modul pembelajaran tentang disabilitas untuk membuka pikiran masyarakat terhadap dunia disabilitas.

Berkat pengalaman pribadi, Mimi sangat mengetahui apa yang dibutuhkan kaum disabilitas lainnya. Seperti fasilitas, bimbingan, dan kepercayaan dari orang normal.

Mimi yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara itu menyadari bahwa penglihatannya mulai kabur saat menginjak usia 10 tahun saat tengah mengenyam pendidikan di bangku SD Candranaya, Jakarta Barat. Penglihatannya menurun secara bertahap hingga akhirnya beliau kehilangan penglihatannya saat berusia 17 tahun sehingga mentalnya pernah jatuh dan tidak percaya diri.

Beliau mulai kehilangan penglihatan secara bertahap akibat penyakit genetik retinitis pigmentosa. Penyakit degenerasi retina yang diturunkan secara genetis. Degenerasi fotoreseptor retina terjadi secara bertahap sehingga menyebabkan hilangnya penglihatan secara progresif.

Beruntung dia memiliki pengalaman tinggal di Asrama saat menempuh pendidikan di Sekolah Tunagrahita Bakti Luhur di Malang, Jawa Timur sehingga membangkitkan semangatnya dan tetap bersyukur. Saat masih tinggal di Asrama, Mimi tinggal bersama anak berkebutuhan khusus dengan kondisi lebih parah, tetapi mereka tetap rajin belajar. “Semangat pantang menyerah kawan-kawan membuat saya yang berkondisi lebih baik bertekad harus berhasil,” ucapnya.

Setelah lulus dari sana, Mimi melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru Santa Maria, Jakarta. Tidak mudah untuk masuk ke sana karena Kepala Sekolah tidak mempunyai pengalaman menangani siswi berkebutuhan khusus seperti Mimi. Hingga akhirnya sekolah memberikan masa percobaan dan Mimi berhasil melewatinya sehingga dia bisa mengenyam pendidikan di sana.

Setelah lulus, dia melanjurkan kuliah ke Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu pendidikan Institute Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Dharma, Yogyakarta. Keraguan pihak universitas yang belum pernah punya mahasiswi disabilitas nyaris memupuskan niat Mimi untuk mengenyam pendidikan di sana. Akhirnya, lagi-lagi dia boleh kuliah dengan masa percobaan dan dilaluinya dengan baik. Berkat kerja keras, kecerdasan, dan kegigihannya dia bisa menyelesaikan pendidikannya tepat waktu.

Sebagai tekadnya untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas supaya bisa diperlakukan seperti warga normal, Mimi menulis sebuah buku serta menjadi peneliti di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, dan FISIP Universitas Indonesia.

Saat ini, Mimi mengakui bahwa penerimaan masyarakat kapada penyandang disabilitas mulai ada kemajuannya, contohnya saat ini ada perguruan tinggi negeri yang bersedia menerima mahasiswa penyandang disabilitas meskipun masih ada juga yang menolaknya. Sebagai bentuk upaya pemberdayaan kepada penyandang disabilitas, Mimi terus memperjuangkan panyandang disabilitas untuk bisa mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun, salah satu contoh yang dilakukannya adalah membangun lembaga pendidikan dan pemberdayaan bernama Mimi Institute Jakarta.

Sumber:
Tim Liputan Kamibijak.com
https://www.uc.ac.id/library/mimi-mariani-lusli-pembuka-mata-tentang-disabilitas/
https://www.mimiinstitute.com/content/mimi-mariani-lusli-penyandang-tuna-netra-yang-jadi-dosen-di-atmajaya 

----

Jangan lupa subscribe, tinggal komentar dan share.
KamiBijakID Channel: http://bit.ly/KamiBijakIDChannel

Follow kami juga di sini:
Website:http://bit.ly/KamiBijakcom
Instagram: http://bit.ly/KamiBijakIDInstagram
Facebook: http://bit.ly/KamiBijakIDFacebook

Terima kasih sudah menonton, Like, Follow dan subscribe Anda sangat berarti bagi kami untuk menambah semangat membuat konten yang lebih bermanfaat.